Risk...
Tuesday, February 15, 2005
tertawa berisiko memperlihatkan kebodohan
menangis berisiko memperlihatkan kecengengan
bertemu orang lain berisiko memperlihatkan keterlibatan
menunjukkan perasaan berisiko menunjukkan diri anda yg sebenarnya
mengemukakan gagasan2, impian2 anda di hadapan umum berisiko kehilangan mereka
mencintai berisiko utk tidak dicintai
hidup berisiko mati
berharap berisiko putus asa
mencoba berisiko gagal
tetapi risiko harus diambil, karena bahaya terbesar dalam hidup adalah
tidak mengambil risiko,
tidak melakukan apapun,
tidak memiliki apapun,
dan tidak berarti apa2.
mereka dapat menghindar dari penderitaan dan kesedihan, tetapi mereka tidak
dapat belajar merasakan, berubah, tumbuh, mencintai atau hidup
kegagalan bukan berarti kita adalah orang2 yang gagal,
rahasia keberhasilan ada dalam dua kata, ketekunan dan pertahanan diri
11:38 PM
Y Y Y
Menerima Seseorang apa adanya ....
Jika kamu memancing ikan....
Setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah
kamu mengambil ikan itu....
Janganlah sesekali kamu lepaskan ia semula ke
dalam air begitu saja....
Karena ia akan sakit oleh karena bisanya
ketajaman mata kailmu
Dan mungkin akan menderita selagi ia masih hidup.
Begitulah juga setelah kamu memberi banyak
pengharapan kepada seseorang...
Setelah ia mulai menyayangimu hendaklah kamu
menjaga hatinya....
Janganlah sesekali kamu meninggalkannya
begitu saja....
Karena dia akan terluka oleh kenangan
bersamamu
Dan mungkin tidak dapat melupakan segalanya
selagi dia mengingatmu....
Jika kamu menadah air biarlah berpada, jangan
terlalu mengharap pada takungannya
Dan janganlah menganggap ia begitu teguh....
cukuplah sekadar keperluanmu....
Apabila sekali ia retak.... tentu sukar untuk kamu
menambalnya semula....
Akhirnya ia dibuang....
Sedangkan jika kamu coba membaikinya
mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi....
Begitu juga jika kamu memiliki seseorang,
terimalah seadanya....
Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan
janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa....
Anggaplah dia manusia biasa.
Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan
mudah bagi kamu untuk menerimanya....
akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya.
Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi
hubungan kamu akan terus hingga ke akhirnya....
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi...
Yang kamu pasti baik untuk dirimu.
Mengenyangkan. Berkhasiat.
Mengapa kamu berlengah, coba mencari
makanan yang lain..
Terlalu ingin mengejar kelezatan.
Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh
memakannya.
Kamu akan menyesal…
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan
seorang insan.....
Yang kamu pasti membawa kebaikan kepada dirimu.
Menyayangimu. Mengasihimu.
Mengapa kamu berlengah, coba
membandingkannya dengan yang lain.
Terlalu mengejar kesempurnaan.
Kelak, kamu akan kehilangannya apabila dia
menjadi milik orang lain
Kamu juga yang akan menyesal.
11:36 PM
Y Y Y
... dan Biarkan Air Mata Itu Menetes
Menitik air mata, mengalir membasahi pipi. Jernih bagaikan butiran embun pagi yang berkilauan diterpa sinar mentari. Menghanyutkan rasa karena kedukaan, hati pun menjadi lara akan kesedihan. Lalu mata meluapkan derai tangisan, hingga tercipta nelangsa yang luruh dalam kedukaan.
Air mata kadang bercerita akan indahnya kisah cinta dan bahagia. Namun tak jarang tercurah dan hanyut dalam sedu sedan penyesalan belaka. Karenanya, betapa banyak untaian kisah yang tercipta dari tetesannya.
Air mata pun kadang menetes karena pelajaran akan sebuah makna ketegaran jiwa.
Hirotada Ototake, seorang pria yang lahir tanpa kaki dan tangan, darinya kita bisa belajar tentang makna tegar dalam kehidupan. Ia mengisahkan dalam buku Gotan Fumanzoku tentang kesanggupannya menamatkan studi di Universitas Waseda dan pernah menjadi presenter berita olahraga di televisi.
Ketegaran air mata pun pernah berkisah tentang Mitsuyo Ohira dalam bukunya Dakara Anata mo Ikinuite. Ohira san adalah seorang wanita yang menjadi sasaran olok-olok ketika duduk di sekolah menengah. Ia pernah mencoba bunuh diri ketika remaja, menikah dengan seorang gangster pada usia enam belas tahun, bercerai, namun kemudian berhasil bangkit dari masa lalunya dan kini menjadi pengacara.
Kisah-kisah itu menceritakan ketegaran yang menguras air mata.
Air mata ibarat hujan yang jatuh dari langit pada lahan hati yang tandus, gersang dan kering kerontang. Tetesannya melunakkan hati dan jiwa yang keras membatu, lalu menciptakan rasa empati dan peka terhadap ciptaan-Nya.
Kegersangan hati dan jiwa, serta qalbu yang merekah karena berbagai nista perlahan pupus. Hanyut, bagaikan debu-debu yang terbawa arus oleh untaian do'a dalam butir-butir air mata yang dimunajatkan kepada Sang Pencipta.
Mahal...
Sungguh sangat mahal harganya tetesan air mata yang mengalir saat khusyuk menghadap-Nya. Hingga salah satu dari dua tetesan yang disukai RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam adalah air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Beliau, yang terjaga dari dosa bahkan selalu menumpahkan air mata karena penuh harap untuk berjumpa dengan-Nya.
Seorang mujahid serta mujaddid yang pernah hidup di dunia ini, Hasan al Banna, juga menguraikan air matanya karena memikirkan ummat.
Betapa keinginannya agar ummat mengetahui bahwa mereka lebih dicintai daripada dirinya sendiri. Hingga ia pernah berkata, "Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh kalian."
Betapa bangganya Sang Imam ketika jiwa-jiwa ini gugur sebagai penebus kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita Islam.
Rasa cinta itu mengharu-biru hati, menguasai perasaan bahkan mencabut rasa ngantuk di pelupuk mata hingga membuat beliau memeras air matanya. Air bening itu lalu mengalir karena menyaksikan bencana yang mencabik-cabik ummat ini.
Sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan serta pasrah pada ketidakberdayaan.
Dan...
Apa yang terjadi pada diri ini?
Takkala lahir menangis, namun orang-orang tercinta tertawa bahagia karena menyambut kelahiran kita.
Namun, mereka pun menangis pilu saat kita tutup usia.
Saat diri akan beranjak pergi, apakah kita juga turut menangis ataukah mengulas senyum bahagia karena akan berjumpa dengan-Nya?
Adakah amal kita lebih banyak dari dosa yang kita lakukan selama hidup di dunia fana?
Apakah prestasi kita hanya lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang, bahkan oleh orang-orang terdekat kita?
Lalu setelah itu hanya pasrah, rebah di bantalan tanah, cemas menanti pengadilan akhir yang pasti tiba.
Duhai Sang Pemilik Jiwa...
Jadikanlah tetesan air yang jatuh dari sudut mata adalah air mata berharga, hingga mampu membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu, Ilahi Rabbi.
Dan, jangan Engkau jadikan air mata ini kelak berubah menjadi tetesan darah karena lelah berteriak, menangis dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat.
Sungguh...
Bersimbah tetesan air mata di dunia fana adalah lebih baik daripada genangan air mata bercampur darah saat di akhirat nanti.
Menangislah sebelum datang hari dimana kita semua akan ditangisi, karena saat itu pasti akan terjadi.
Telah tertutuplah pintu surga / Diketuk keras tak akan terbuka / Walau pekik ingin memecah langit / Walau air matanya berganti darah
Ya Allah, yang manusia harus takuti / Angkatlah kami dari lembah maksiat / Sampai kami keluar dari dunia / Tak bawa beban walau sebesar zarrah
[Lirik Nasyid: Air Mata dari Izzatul Islam]
WaLlahua'lam bi shawab.
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
11:16 PM
Y Y Y
Ghazwul Fikri
Seorang wanita guru sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata, "Saya punya permainan...
Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai."
Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, selingkuh dan zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, dan lain-lain."
"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. "Paham buu..."
"Baik permainan kedua..." begitu Bu Guru melanjutkan. "Bu Guru punya Qur'an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?" Nah, nah, nah. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur'annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet. "Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan... Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Preman pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.
"Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka... Dan itulah yang mereka inginkan."
"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian... Paham anak-anak?"Paham buu!"
10:53 PM
Y Y Y
Songs n the story...Part I
Helloween - The Time Of The Oath
Forever And One
What can I do?
Will I be getting through?
Now that I must try to leave it all behind
Did you see what you have done to me?
So hard to justify
Slowly it's passing by
Forever and one
I will miss you
However, I kiss you
Yet again
Way down in Neverland
So hard I was trying
Tomorrow I'll still be crying
How could you hide your lies
Your lies
Here I am
Seeing you once again
My mind's so far away
My heart's so close to stay
Too proud to fight
I'm walking back into night
Will I ever find someone to believe?
Forever and one
I will miss you
However, I kiss you
Yet again
Way down in Neverland
So hard I was trying
Tomorrow I'll still be crying
How could you hide your lies
Your lies
#ini merupakan lagu favorit gw kalo lagi kumpul2 bareng Cicada...
gak selalu dimainin siy..tapi setiap mereka memainkannya, gw selalu hanyut oleh perasaan....kl mo denger juga, bisa didapet di album Helloween - The Time Of The Oath.
Cicada...Cicada itu sebenernya nama grup band, tapi kita gak terlalu memagarinya hanya untuk bermain musik di studio aja...Cicada jadi lebih akrab sebagai nama grup persahabatan kami.
gw kenal mereka..Oim, Derby, Ezzy dan Yusran (cowo smua gitu) sejak masih SMP..mereka adalah kakak kelas gw di SMP.
Hubungan kami dah kaya keluarga..dan gw selalu menjadi anak paling kecil. Gw selalu comfort kl lagi bareng mereka. Mo rapi OK, mo nggembel juga ayo..
Entah apa gw berlebihan ato enggak..gw gak ngrasa sungkan even gw seorang cewe'.. mo ngomongin masalah apapun kita enak2 aja. Sampe hal2 yang mungkin kurang etis dilakuin oleh seorang cewe kaya..naik mobil bak terbuka, kemping bareng ke P Seribu, Tidur ngemper di RS saat salah satu dari kami ada yang sakit dsb.
Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini, kami mulai disibukkan dengan pekerjaan dan tanggung jawab masing2..dah jarang ketemuan, komunikasi sesekali lewat SMS ato HP.
Kalo sendirian di studio gw cuma bisa meringis2 sendiri mengingat hal2 lucu saat kami masih sama2..atau sesekali dada terasa sesak saat sadar bahwa hal2 kaya gitu dah langka banget untuk terjadi lagi pada saat sekarang ini.
Miss U All Guys....All 4 One, One 4 All.
8:42 PM
Y Y Y